Amalan Penghantar Cahaya, bag. 02 – Mengingat Neraka bag 04
Aqidah Artikel

Amalan Penghantar Cahaya, bag. 02 – Mengingat Neraka bag 04

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Saudaraku…

Di bawah ini sambungan tentang “Amalan Penghantar Cahaya di hari kiamat, di atas shirath, semoga bermanfaat dan akhirnya bisa mengamalkannya. Allahumma amin.
 
8. Memperlajari Al Quran dan Menghafalkannya
 
عن عبد الله بن بريدة الأسلمي عن أبيه رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قرأ القرآن وتعلمه وعمل به ألبس يوم القيامة تاجا من نور ضوؤه مثل ضوء الشمس ويكسى والديه حلتان لا يقوم بهما الدنيا فيقولان بما كسينا فيقال بأخذ ولدكما القرآن
 
Artinya: “Dari Abdullah bin Buraidah Al Aslamy, ia meriwayatkan dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca Al Quran dan mempelajarinya serta mengamalkannya, niscaya dipakaikan kepadanya pada hari kiamat, sebuah mahkota dari cahaya, sinarnya seperti sinar matahari dan kedua orangtuanya dua pakaian jubah, tidak dapat dinilai dengan dunia, lalu kedua orangtuanya berkata: “Apa sebab kami dipakaikan ini?”, dijawab: “Dengan  sebab anak kalian berdua menghafal Al Quran.” HR. AL Hakim dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih At Targhib wa At Tarhib, no. 1434.
 
9. Berjihad di jalan Allah Ta’ala
 
{وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ أُولَئِكَ هُمُ الصِّدِّيقُونَ وَالشُّهَدَاءُ عِنْدَ رَبِّهِمْ لَهُمْ أَجْرُهُمْ وَنُورُهُمْ وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ} [الحديد: 19]
 
Artinya: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Tuhan mereka.  Bagi mereka pahala dan cahaya mereka. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka.” QS. Al Hadid: 19.
 
Berkata Ath Thabary:
 
والشهداء الذين قتلوا في سبيل الله أو هلكوا في سبيله، لهم عند ربهم ثوابٌ ونورٌ عظيم اهـ
 
Artinya: “Dan para Syahid yang terbunuh di jalan Allah atau meninggal di jalan-Nya, mereka mempunyai ganjaran dan cahaya yang besar di sisi Rabb mereka. Lihat Tafsir Ath Thabary pada ayat ini.
 
عَنْ أَبِي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ رَمَى بِسَهْمٍ فِي سَبِيلِ اللهِ كان لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang melepaskan sebuah panah di dalam berjihad di jalan Allah, maka baginya cahaya pada hari kiamat.” HR. Al Bazzar dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Kitab Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no.2555
 
10. Selalu Berbuat Adil dan Meninggalkan Kezhaliman
 
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ ».
 
Artinya: “Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah kezhaliman, karena sesungguhnya kezhaliman adalah merupakan kegelapan-kegelapan pada hari kiamat, dan jauhilah sifat bakhil, karena sesungguhnya sifat bakhil telah menghancurkan orang-orang sebelum kalian, menjadikan mereka menumpahkan darah dan menghalalkan yang diharamkan.” HR. Muslim.
 
Berkata An Nawawi rahimahullah:
 
قال القاضي: قيل: هو على ظاهره، فيكون ظلمات على صاحبه لا يهتدي يوم القيامة سبيلا حتى يسعى نور المؤمنين بين أيديهم وبأيمانهم اهـ.
 
“Berkata Al Qadhi ‘Iyadh: “Ia sesuai dengan zhahir lafazhnya, maka ia kana menjadi kegelapan untuk pelakunya tidak akan mendapat petunjuk jalan pada hari kiamat, samapi cahaya kaum beriman menuntun mereka di hadapan dan di depan mereka. Lihat kitab Syarah Shahih Muslim, 16/370
 
11. Melempar Jumrah Ketika Menunaikan Ibadah Haji
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إذَا رَمَيْتَ الْجِمَارَ كان لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
 
Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kamu melempar batu-batu jumrah, maka niscaya bagimu cahaya pada hari kiamat. HR. AL Bazzar dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih At Targhib Wa At Tarhib, no. 1557.
 
12. Menggundul Rambut Ketika Tahallul Haji
 
عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: عن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: « وَإِذَا حَلَقَ رَأْسَهُ فَلَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ سَقَطَتْ مِنْ رَأْسِهِ نُورٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَإِذَا قَضَى آخِرَ طَوَافِهِ بِالْبَيْتِ خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ»
 
Artinya: “Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “…Dan jika ia menggundul rambutnya maka ia memiliki pada setiap rambutnya yang jatuh dari kepalanya cahaya pada hari kiamat.” HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih At Targhib Wa At Tarhib, no. 1155.
 
عن عبادة بن الصامت ( أن رسول الله ( قال: (….وأما حلقك رأسك فإنه ليس من شعرك شعرة تقع في الأرض إلا كانت لك نورا يوم القيامة) .
 
Artinya: “Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rassulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Adapun kamu mengguundul rambut kepalamu, maka sesungguhnya tidak satu dari helai rambutmu jatuh di atas tanah melainkan ia akan menjadi cahaya bagimu ppada hari kiamat.” HR. Ath thbarany dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih At tarhib wa At Tarhib, no. 1113.
 
13. Menuntut Ilmu Syar’ie
 
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:« مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ ». 
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullahh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menempuh jalan, ia mencari ilmu di dalamnya, niscaya Allah Ta’ala memuddahkan baginya jalan menuju surga.” HR. Tirmidzi
 
Berkata Ibnu Rajab: 
 
 وقد يدخل في ذلك أيضا تسهيل طريق الجنة الحسي يوم القيامة -وهو الصراط- وما قبله وما بعده من الأهوال… اهـ .
 
“Dan kadang masuk di dalamperkara itu juga, adalah kemudahan jalan surrga yang nyata pada hari kiamat, yaitu ash shirath, dan uga sebelum daan sesudahnya dari kesulitan-kesulitan.” lihat kitab Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, 2/297.
 
Berkata Asy Syafie rahimahullah: 
 
 كتب حكيم إلى حكيم: يا أخي قد أوتيت علما، فلا تدنس علمك بظلمة الذنوب، فتبقى في الظلمة؛ يوم يسعى أهل العلم بنور علمهم اهـ .
 
“Seorang yang bijaksana menulis surat kepada seorang yang bijaksana: “Wahai Saudaraku, kamu sudah diberikan ilmu, maka janganlah kamu kotoori dengan gelapnya dosa-dosa, maka kamu akan tetap pada kegelapan pada hari orang-orang yang berilmu dituntun oleh cahaya ilmu mereka.” lihat kitab Hilyat Auliya’, 9/146.
 
14. Mencintai karena Allah Azza wa Jalla
 
عن أبي مالك الأشعري رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: « يَا أَيُّهَا النَّاسُ اسْمَعُوا وَاعْقِلُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عِبَادًا لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ وَلاَ شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمُ الأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ عَلَى مَجَالِسِهِمْ وَقُرْبِهِمْ مِنَ اللَّهِ ». فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأَعْرَابِ مِنْ قَاصِيَةِ النَّاسِ وَأَلْوَى بِيَدِهِ إِلَى نَبِىِّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا نَبِىَّ اللَّهِ نَاسٌ مِنَ النَّاسِ لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ وَلاَ شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمُ الأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ عَلَى مَجَالِسِهِمْ وَقُرْبِهِمْ مِنَ اللَّهِ انْعَتْهُمْ لَنَا – يَعْنِى صِفْهُمْ لَنَا – فَسُرَّ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِسُؤَالِ الأَعْرَابِىِّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هُمْ نَاسٌ مِنْ أَفْنَاءِ النَّاسِ وَنَوَازِعِ الْقَبَائِلِ لَمْ تَصِلْ بَيْنَهُمْ أَرْحَامٌ مُتَقَارِبَةٌ تَحَابُّوا فِى اللَّهِ وَتَصَافَوْا يَضَعُ اللَّهُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ فَيُجْلِسُهُمْ عَلَيْهَا فَيَجْعَلُ وُجُوهَهُمْ نُوراً وَثِيَابَهُمْ نُوراً يَفْزَعُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَفْزَعُونَ وَهُمْ أَوْلِيَاءُ اللَّهِ الَّذِينَ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ ». 
 
Artinya: “Abu Malik Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu meriwayat bahwa rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai manusia, dengarkkanla dan pahamilah, ketauhilah bahwa Allah Azza wa Jalla mempunyai hamba-hamba, mereka bukan nabi, bukan syahid yang menjaadikan duduk dan dekat mereka dari Allah”, lalau datang seorang daari pedalaman dari orang biasa dan ia menunjukkan tangannya kepada NNabi Allah, lalu ia berkata: “Wahai Nabi Allah, manusia biasa, bukan nabi, atau syahid, tetapi para nabi dan syuhada iri dengan kedudukan dan kkedekatan mereka dari Allah! sebutkanlah sifat mereka kepada kami”, maaka wajah Rasulullahpun terlihat senang karena pertanyaan seorang daari pedalaman ini, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Mereka adalah manusia dari bergai macam dan campuran dari beberapa kabilah, tidak tersambung diantara mereka hubungan pertalian darah kekerabatan, mereka saling mencintai kaena Allah dan meereka salaing mensucikan, maka Allah akan meletakkan bagi mereka ppada hari kiamat, mimbar-mimbar dari cahaya, maka mereka akan didudukkan di atasnya, lalu Allah menjadikan wajah-wajah mereka sebagaai cahaya, pakaian mereka cahaya, ketika manusia tersentak padaa hari kiamat mereka tidak tersentak, mereka adalah wali-wali Allah yyang tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak khawatir.”HR. Ahmad daan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih At Targhib wa At taarhib, no. 3027. 
 
15. Uban akan Menjadi Cahaya 
 

عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ شَابَ شَيْبَةً فِى سَبِيلِ اللَّهِ كَانَتْ نُوراً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ». فَقَالَ رَجُلٌ عِنْدَ ذَلِكَ فَإِنَّ رِجَالاً يَنْتِفُونَ الشَّيْبَ.فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ شَاءَ فَلْيَنْتِفْ نُورَهُ ».
 
Artinya: “Fudhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasullullah shallallahu bersabda: “Barangsiapa yang beruban di dalam Islam, maaka niscaya baginya cahaya pada hari kiamat.” lalau ada seorang yang bertanya ketika itu: “Sesungguhnya ada beberapa orang mencabut ubannya, (bolehkah)?”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Barangsiapa yang menghendaki untuk mencabut cahaya (silahkan ia cabut).”  HR. Al Bazzarr dan Ath Thabrany dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahiih At Targhib Wa At tarhib, no. 2092.
 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:  «لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ فَإِنَّهُ نُورٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ كُتِبَ لَهُ بِهَا حَسَنَةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ، وَرُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ»
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mencabut uban, karenaa sesungguhnya ia adalah cahaya pada hari kiamat dan barangsiapa yanng beruban di dalam Islam, nniscaya Allah menuliskan dengannya satu kebaikan, dihapuskan darinya satu dosa dan diangkat untuknya beberapa tingkatan.”
 
adanya uban sudah menjadi perhatian para ulama terdahulu, berkata Abdul Aziz bin Abu Rawwad kepada seseorang  
 
من لم يتعظ بثلاث لم يتعظ بشيء: الإسلام والقرآن والمشيب .
 
Berkata: “Barangsiapa yang tidak mengambil pelajaran dengan tiga hal maka iaa tidak akan mengambil pejalaran dengan apapun: “Islam, Al Quran dan Uban.” lihat kitab Sifat Ash Shafwah, 1/470.
 
16. Menyambung Hubungan Dengan Kawan-kawan Baik Orangtua Sepeninggal Mereka
 
عن ابن عمر رضي الله عنهما مر أعرابي في سفر فكان أبو الأعرابي صديقا لعمر ( فقال الأعرابي: ألست ابن فلان؟ قال بلى. فأمر له ابن عمر بحمار وكان يستعقب، ونزع عمامته عن رأسه فأعطاه فقال بعض من معه، أما يكفيه درهمان؟ فقال قال النبي ( (احفظ ود أبيك لا تقطعه فيطفئ الله نورك) 
 
Berkata: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan: “seorang dari pedalaman dalam sebuah perjalanan, dan bapaknya yang dari pedalaman inni adalah kawannya Umar, si orang pedalaman bertanya: “Bukankah kamu annaknya si fulan?”, ia menjawab: “Iya”, lalu Abdullah bin Umar memerintahkann untuk memberikannya keledai karena beliau meminta sesuatu,, lalu Abdullah bin Umar melepaskan surbannya dari kepalanya dan ia bberikan kepada orang tersebut, sebagian yang bersama Abdullah bin Umar berkata: “Bukankah cukup baginya dengan hanya dua dirham (yang kamu berikan kepadanya?”, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma menjawab: “Telah bersabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam: “Jagalah kawan bbaik orangtuamu, jangan kamu putuskan maka Allah akan memutuskan cahaya.” Berkata Al Haitsamy: “Hadits diriwayatkan oleh Ath Thabrany di dalam kitab Al Mu’jamul Awshat dan sanadnya shahih (8/147) dan disetujui oleh As Suyuthy di dalam Al jami’ Ash Shaghir (265) dan Al Munawi di dalam kkitab Faidh Al Qadir, beliau berkata: “Berkata Zain Al Huffazh Al ‘Iraqy: sanadnya baik’ (1/196), tetapi dilemahkan oleh Al Albani di alam kitab Al Adab Al Mufrad, 40.
 
17. Berdoa Memohon Kepada Allah Agar Mendapatkan Cahaya
 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ رَقَدَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَيْقَظَ فَتَسَوَّكَ وَتَوَضَّأَ وَهُوَ يَقُولُ { إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ } فَقَرَأَ هَؤُلَاءِ الْآيَاتِ حَتَّى خَتَمَ السُّورَةَ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فَأَطَالَ فِيهِمَا الْقِيَامَ وَالرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ ثُمَّ انْصَرَفَ فَنَامَ حَتَّى نَفَخَ ثُمَّ فَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ سِتَّ رَكَعَاتٍ كُلَّ ذَلِكَ يَسْتَاكُ وَيَتَوَضَّأُ وَيَقْرَأُ هَؤُلَاءِ الْآيَاتِ ثُمَّ أَوْتَرَ بِثَلَاثٍ فَأَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ فَخَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي لِسَانِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِي نُورًا وَمِنْ أَمَامِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا وَمِنْ تَحْتِي نُورًا اللَّهُمَّ أَعْطِنِي نُورًا
 
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ia pernah menginap di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bangun berwudhu dan membaca:
 
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ
 
Beliau membaca ayat-ayat sampai habis Surat, kemudahan beliau shalat dua rakaat, beliau memanjangkan di dalam keduanya berdirinya, rukunya,  sujud kemudian beliau pergi tidur sampai mendengkur, kemudian beliau mengerjakan itu sebanyak tiga Kali enam rakaat, setiap Dari itu beliau bersiwak, berwudhu dan membaca ayat-ayat tadi kemudian beliau shalat witir dengan tiga rakaat, maka muadzdzin mengumandangkan adzan, lalu beliau keluar menuju shalat , seraya berdoa:
 
« اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِى قَلْبِى نُورًا وَفِى بَصَرِى نُورًا وَفِى سَمْعِى نُورًا وَعَنْ يَمِينِى نُورًا وَعَنْ يَسَارِى نُورًا وَفَوْقِى نُورًا وَتَحْتِى نُورًا وَأَمَامِى نُورًا وَخَلْفِى نُورًا وَعَظِّمْ لِى نُورًا ».
 
Dan di dalam riwayat An Nasai, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membacanya ketika sujudnya.” HR. Muslim dan An Nasai
Ibnu ‘Allan berkata:
 
قال القرطبي: هذه الأنوار التي دعا بها النبي ( يمكن أن تحمل على ظاهرها، فيكون معنى سؤاله أن يجعل الله له في كل عضو من أعضائه يوم القيامة نورا يستضيء به في تلك الظلم هو ومن تبعه، والأولى أن يكون مستعارة للعلم والهداية اهـ .
 
“Berkata Al Qurthuby: ” Cahaya-cahaya ini yang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memintanya di dalam doanya, dapat dimungkinkan sesuai dengan zhahir lafazhnya, maka makna doa beliau, yaitu Allah menjadikan baginya pada setiap anggota badannya pada hari kiamat cahaya , meneranginya pada malam yang gelap itu Dan siapa yang mengikutinya,  dan yang paling utama adalah menjadi pinjaman untuk kata ilmu dan petunjuk. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.
 
Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Ahad, 29 Syawwal 1433H, Dammam KSA.

Post Comment