Apakah boleh Mencium dan Mengusap Hajar Aswad tidak dalam Thawaf?
Artikel Fiqh

Apakah boleh Mencium dan Mengusap Hajar Aswad tidak dalam Thawaf?

 بسم الله الحمن الرحيم , الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Dalam permasalahan ini terdapat dua pendapat dari ulama kontemporer
–    Pertama: Yang berpendapat bahwa Mencium dan mengsap hajar aswad adalah bagian tahwaf saja dan tidak disyariatkan mencium dan mengusapnya diluar proses thawaf
–    Kedua: Yang berpendapat bahwa mencium dan mengusap hajar aswad adalah ibadah tersendiri, oleh karenanya diperbolehkan untuk mencium atau mengusapnya meskipun di luar proses thawaf.

Dalil pendapat pertama:
Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum tidak pernah mencium Hajar Aswad secara tersendiri tanpa proses thawaf dan tidak ada riwayat yang menunjukkan hal ini.
Berkata Ibnu Utsaimin rahimahullah:

ولا أعلم أن تقبيل الحجر يسن في غير الطواف

“Dan Saya tidak mengetahui bahwa mencium hajar aswad disunnahkan dalam selain thawaf.” Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, 22/397.
Berkata Al ‘Abbad hafizhahullah ketika ditanya Apakah mencium hajar Aswad khusus dengan thawaf atau boleh di dalam selain thawaf:

هو خاص بالطواف وبما يكون بعد الطواف، يعني: بعدما يطوف الإنسان ويصلي ركعتين فإنه يرجع إلى الحجر ويقبله إذا تيسر له ذلك.

Artinya: “Ia (mencium dan mengusap hajar aswad) dengan thawaf dan dengan apa yang berkaitan setelah thawaf, yaitu setelah seseorang thawaf dan shalat dua arakaat, ia kembali ke hajar aswad dan menciumnya jika memudahkan baginya untuk itu.” Lihat Syarah Sunan Abu Daud, Syeikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad, 10/42. (syamela).
Dalil pendapat kedua:
Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu menceritakan tata cara haji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan setelah menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah thawaf shalat dua rakaat, kemudia beliau berkata:

ثُمَّ رَجَعَ إِلَى الرُّكْنِ فَاسْتَلَمَهُ

“Kemudian beliau kembali ke rukun Hajar Aswad lalu beliau menciumnya…” HR. Muslim.
Berkata Syeikh Muhammad bin Muhammad Al Mukhtar Asy Syinqithy hafizhahullah ketika ditanya apakah mencium Hajar Aswad disyariatkan dalam selain Thawaf:

نعم! هذه المسألة نص طائفة من أهل العلم على أنه يجوز أن يقبل الحجر وأن يستلم في غير الطواف لما ثبت في الحديث الصحيح في رواية أحمد في مسنده ( أن النبي صلى الله عليه وسلم لما طاف في حجة الوداع صلى ركعتي الطواف، ثم شرب من زمزم، ثم مضى إلى الحجر وقبله، ثم مضى إلى الصفا والمروة ) .
فقبله بعد شرب زمزم، أي: بعد انفصال الطواف؛ لأنه طاف وصلى ركعتي الطواف ثم شرب من زمزم، الشرب أجنبي؛ لأنه فصل بفاصل أجنبي.
وقال: ولذلك قالوا: من جمع بين الصلاتين كالظهر والعصر والمغرب والعشاء فلا يجوز له أن يتغدى بين الظهر والعصر ولا أن يتعشى بين المغرب والعشاء؛ لأن الأكل والشرب أجنبي عن الصلاة.

 “Iya, masalah ini telah dinyatakan oleh sebagian ulama, bahwa diperbolehkan mencium hajar Aswad dan mengusapnya di selain thawaf, sebagaimana di dalam hadits shahih di dalam riwayat Ahmad dalam kitab Musnadnya “bahwa Nabi Muhammad setelah thawaf dalam haji Wada’, beliau shalat dua rakaat, kemudian meminum zamzam, kemudian beliau pergi menuju Hajar Aswad dan menciumnya, lalu beliau menuju Shafa dan Marwah”.
Beliau menciumnya setelah meminum Air ZamZam, yaitu setelah terpisah dengan thawaf, karena beliau thawaf, lalu shalat dua rakaat kemudian minum Zamzam, minum adalah hal luar, karena ia dipisah dengan bagian luar.”
Beliau juga berkata: “Dari sinilah para ulama menyatakan; barangsiapa yang menjamak dua shalat seperti shalat Zhuhur dan Ashar, maghrib dan Isya’, maka tidak boleh baginya makan siang antara shalat zhuhur dan shalat Ashar, tidak boleh makan malam antara shalat Maghrib dan shalat Isya’, karena makan dan minum adalah bagian luar dari shalat. Diringkas dari http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=FullContent&audioid=129479&full=1
Pendapat penulis:
Tidak disyariatkan untuk mencium Hajar Aswad pada selain thawaf, hal ini di karenakan beberapa hal:
1.    Belum didapatkan (sepengetahuan penulis) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhu mencium dan mengusap Hajar Aswad selain thawaf.
2.    Mencium dan mengusap Hajar Aswad adalah ibadah dan asal hukum ibadah tauqifiyyah yang bergantung kepada ada tidaknya dalil yang shahih dengan pemahaman yang shahih. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Sabtu, 3 Muharram 1434H, Dammam Arab Saudi

Post Comment