ANTARA TAAT KEPADA PEMIMPIN NEGARA DENGAN PEMIMPIN PARTAI?!
Aqidah Artikel

ANTARA TAAT KEPADA PEMIMPIN NEGARA DENGAN PEMIMPIN PARTAI?!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Saudaraku seiman…

Jika kita perhatikan hadits berikut:

« يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ »

Artinya: “Akan ada sepeninggalku para pemimpin yang tidak melaknsankan petunjukku dan tidak melaksankan sunnahku, dan akan memimpin ditengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya seperti hati syetan di dalam tubuh manusia.” Hr. Muslim

Maka kita dapat ambil pelajaran bahwa akan ada para pemimpin yang tidak melaksanakan ajaran rasulullah dan berbuat zhalim.

 

Dan jika kita perhatikan sambungan  haditsnya:

قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».

Artinya: “aku (mu’adz bin jabal) bertanya: “(lalu) bagaimanakah yang aku kerjakan, jika aku mendapati hal tersebut wahai rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”, beliau menjawab: “kamu dengarkan dan taati pemimpin itu, meskipun ia memukul punggungmun dan mengambil hartamu, maka dengarkan dan taatilah (ia).” Hr. Musim.

Dan jika kita memperhatikan hadits berikut:

« لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ ».

Artinya: “tidak ada ketaatan di dalam kemaksiatan kepada allah sesungguhnya ketaatan hanya di dalam hal yang ma’ruf.” HR. Bukhari dan muslim.

Maka kita dapat mengambil pejaran bahwa meskipun pemimpin berbuat zhalim dan lebih mengedepankan kepentingan sendiri, maka sebagai rakyat harus tetap taat dan patuh selama dia muslim,  asalkan jangan taat kepada maksiat.

Nah…sepertinya yang terjadi sekarang adalah…

Jika seorang pemimpin negara melakukan kesalahan dan kekurangan, harga diri pemimpin tersebut dijatuhkan, dihina di depan umum, dilecehkan, didemo dimana-mana, sehingga tumbuh mosi ketidak percayaan masayarakat luas kepada pemimpin negara, yang akhirnya mengakibatkan unstabilitas keamanan nasional.

Padahal yang seharusnya dilakukan seorang rakyat muslim sebelum rakyat yang beragama lain, adalah berusaha menasehati dengan cara yang baik dan sesuai dengan tuntutan syariat, itu jika pemimpin melakukan kesalan.

Dan berusaha selalu mendoakan pemimpin, agar menjadi pemimpin yang shalih sebagai pengatur negara.

Serta berusaha terus loyal kepada pemimpin agar beliau tetap mendapat kepercayaan dimasyarakat SEHINGGA TERJADI STABILITAS KEAMANAN DAN KEADAAN NASIONAL.

Tetapi yang terjadi sekarang adalah…

Jika seorang pemimpin partai melakukan kesalahan atau masih tersangka melakukan kesalahan, maka para kader partai di garda terdepan untuk menyelamatkan nama baik pemimpin mereka bahkan kadang tidak sedikit air mata yang terlinang, uang yang terbayar, tenaga yang tercurah, bahkan tidak sedikit yang menghalalkan segala cara, BAHKAN terkadang sudah jelas-jelas salah pemimpinnya, tetap saja dibela matia-matian, demi hanya untuk mempertahankan elektabilitas dan konsistensi SERTA EKSISITENSI pemimpin tersebut, agar pemimpin tersebut masih mempunyai reputasi yang baik dan nama yang harum ditengah masyarakat.

Bukankah ini sebuah sikap ketaatan yang terbalik…?!

Bukankah sikap para kader partai tersebut yang mereka lakukan kepada pemimpin partai mereka seharusnya lebih mereka lakukan kepada pemimpin negara yang muslim dan sah?!

Bukankah sebenarnya mereka harus lebih berada digarda terdepan mempertahankan reputasi dan nama baik pemimpin nergara?!

Bukankah sikap mempertahankan nama baik dan reputasi seharusnya lebih mereka lakukan kepada pemimpin negara yang muslim dan sah?! 

Bukankah sikap loyal seharusnya lebih mereka lakukan kepada pemimpin negara yang muslim dan sah?!

Bukankah sikap tidak mencela, menghina, menjatuhkan, mendemo, mencaci di depan umum seharusnya lebih mereka lakukan kepada pemimpin negara yang muslim dan sah?!

Bukankah hadits dibawah ini menunjukkan bahwa taat kepada pemimpin Negara (lebih di dahulukan) daripada taat kepada pemimpin partai?!

Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita ketika beliau sakit:

دَعَانَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَبَايَعْنَاهُ فَكَانَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِى مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ قَالَ « إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ ».

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memanggil kami, lalu kami baiat beliau, maka yang beliau sebutkan adalah, kami membaiat beliau untuk mendengar (patuh) dan taat di dalam senang dan susah kami, dan di dalam kesulitan dan kelapangan kami, atau di dalam sikap lebih mendahulukan dirinya daripada kami, dan agar kami tidak melepaskan perkara dari yang memilikinya (yaitu memberontak), dan beliau bersabda: “Kecuali kalian melihat kekafiran yang jelas, kalian memliki bukti yang jelas dari Allah tentangnya.” HR. Muslim.

TETAPI SEMUANYA TERBALIK…!

Itulah akibatnya, ketika tidak menjalankan syariat Islam secara total dan maksimal, meskipun terkadanG partai tersebut membawa lebel-lebel Islam dan dakwah. Wallahul musta’an.

ditulis oleh Ahmad Zainuddin

Selasa, 4 Rajab 1434H, Dammam KSA.

Post Comment