Bosan Konflik, Bukan Berarti Harus Mendiamkan Kemungkaran
Artikel Fiqh

Bosan Konflik, Bukan Berarti Harus Mendiamkan Kemungkaran

Ketahuilah wahai kawanku…

 

Semenjak Allah membiarkan Iblis untuk menganggu manusia sampai hari dibangkitkannya manusia, maka semenjak itu pula proses pertarungan antara kebenaran dan kebatilan selalu ada.
{قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (79) قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (80) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ (81) قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (82) إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (83)} [ص: 79 – 83]
Artinya: “Iblis berkata: Wahai Rabbku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan. Allah berfirman: Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh. Sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat). Iblis menjawab: Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Shod: 79-83)

 

{ قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (14) قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (15) قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16) ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ (17) قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَدْحُورًا لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ أَجْمَعِينَ (18)} [الأعراف: 14 – 18]
Artinya:

 

“Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.”

 

“Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.”

 

“Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.”

 

“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”

 

“Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya.” (Al-‘Araf: 14-18)

 

{ قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (36) قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (37) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ (38) قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (40) قَالَ هَذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ (41) إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ (42) وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ (43)} [الحجر: 36 – 43]
Artinya:

 

“Berkata iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.”

 

“Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh.”

 

“Sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.”

 

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.”

 

“Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.”

 

“Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya).”

 

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.”

 

“Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya.” (Al-Hijr: 43-46)
 

 

 

Ketahuilah wahai Kawanku…

 

Coba perhatikan ayat-ayat di atas, kita bisa mengambil beberapa pelajaran:

 

Pertama, Iblis bersumpah dengan kekuasaan Allah bahwa dia akan melencengkan manusia seluruhnya dari jalan Allah. 
Kedua, Iblis bersumpah bahwa akan mengganggu dari depan, belakang, kanan dan kiri. 
Ketiga, Akan terjadi pertarungan hebat antara iblis dan pengikutnya dengan hamba Allah, orang-orang ikhlas dan pandai bersyukur.

 

Ketauhilah wahai kawanku…

 

Bersatu tidak diperintahkan kecuali di atas kebenaran:

 

Allah berfirman:

  

{ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ} [المائدة: 2]
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” QS. Al Maidah: 2.

 

Allah Ta’ala befirman:

  

{ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ الله جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ الله عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ الله لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (103) وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104) وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (105)} [آل عمران: 103 – 105]
Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” QS. Ali Imran: 103-105.

 

Lihat ayat- ayat yang mulia ini begitu jelas menerangkan dan keterkaitan antara persatuan dengan Amar ma’ruf Nahi Mungkar.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ».
Artinya: “Sesungguhnya siapa yang hidup dari kalian sepeninggalkanku maka dia akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka hendaknya kalian berpegang tegung kepada sunnahku dan sunnah kahlifah yang diberi petunjuk dan yang baik, berpegang teguh dengannya dan gigitlah dengan gigi graham kalian dan jauhilah perbuatan yang mengada-ada karena sesungguhnya setiap yang mengada-ada adalah bid’ah dan setiap bid’ah sesat.” HR. Abu Daud.
Ketauhilah wahai kawanku…

 

  1. Keimanan tidak akan pernah berkumpul dengan kesyirikan
  2. Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya tidak akan pernah berkumpul dengan sikap penentangan kepada Allah dan rasul-Nya.
  3. Keimanan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Rasul dan nabi paling terkahir tidak akan pernah berkumpul dengan keyakinan bahwa ada Nabi setelah nabi Muhammad shalallallahu ‘alaihi wasallam.
  4. Keimanan bahwa ajaran islam sempurna, tidak butuh tambahan, tidak akan pernah berkumpul dengan keyakinan masih ada bidah hasanah.
  5. Keimanan bahwa Al Quran yang ditangan kaum muslim sekarang sempurna tidak akan berkumpul dengan keyakinan bahwa Al Quran sekarang masih 1/3 dan akan dibawa oleh Imam Mahdi mereka 2/3nya. 
  6. Keimanan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa orang pilihan yang tepat dari Allah  dengan keyakinan bahwa pemilihan nabi itu keliru semestinya bukan yang namanya Muhammad.
  7. Keimanan bahwa Istri-istri nabi radhiyallahu ‘anhunna adalah istri beliau di dunia dan diakhirat dengan keyakinan bahwa sebagian istri nabi murtad setelah nabi shallallahu ‘alaihi wasallamwafat dan tukang zina.

 

Hanya ada satu cara untuk menjadi adikuasa di bumi, terdepan dalam segala hal…

 

Hanya ada satu cara untuk terlepas dari ketakutan, musibah, bencana, yaitu…

 

Selalu menyembah Allah Ta’ala dengan tidak mempersekutukan sesuatu apa pun dengan-Nya
{وَعَدَ الله الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ} [النور: 55]
Artinya: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.  Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik“. QS. An-Nur: 55.

 

 

Semoga nasehat ini bermanfaat bagi yang menulis dan bagi yang tidak suka konflik tetapi mendiamkan kemungkaran.

 

 

*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, 2 Rabi’ul Awwal 1433H, Dammam KSA.
DENGARKAN KAJIAN MP-3 TENTANG FIKIH AMR MA’RUF NAHI MUNGKAR DI SINI

Post Comment