Terhina Karena Hutang (bag. 04)
Artikel Fiqh

Terhina Karena Hutang (bag. 04)

  بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Saudara seiman…

Di bawah ini masih disebutkan hal-hal yang merupakan ancaman bagi seorang yang berhutang, terutama bagi yang tidak meremehkannya atau menunda-nunda pembayarannya.

2. hadits-hadits yang menunjukkan bahwa seorang yang berhutang tidak diampuni dosa akibat hutangnya:

 

a)  عن ابْنَ عُمَرَ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ حَالَتْ شَفَاعَتُهُ دُونَ حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَقَدْ ضَادَّ اللَّهَ فِى أَمْرِهِ وَمَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَلَيْسَ بِالدِّينَارِ وَلاَ بِالدِّرْهَمِ وَلَكِنَّهَا الْحَسَنَاتُ وَالسَّيِّئَاتُ … ».  روا أحمد

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang syafaatnya menghalangi sebuah hukum dari hukum-hukum had Allah Azza wa Jalla, maka sungguh ia telah melwan Allah di dalam perkara-Nya, barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mempunyai tanggungan hutang, maka bukanlah (dibayar) dengan emas atau perak akan tetapi (dibayar)nya dengan kebaikan dan keburukan…” HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 437.

b) عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ ». رواه مسلم

Artinya: “Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Diampuni untuk seorang syahid setiap dosa kecuali hutang.” HR. Muslim.

c) عَنْ أَبِى قَتَادَةَ أَنَّهُ سَمِعَهُ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَامَ فِيهِمْ فَذَكَرَ لَهُمْ « أَنَّ الْجِهَادَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالإِيمَانَ بِاللَّهِ أَفْضَلُ الأَعْمَالِ ». فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ تُكَفَّرُ عَنِّى خَطَايَاىَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « نَعَمْ إِنْ قُتِلْتَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ ». ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « كَيْفَ قُلْتَ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ أَتُكَفَّرُ عَنِّى خَطَايَاىَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « نَعَمْ وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ إِلاَّ الدَّيْنَ فَإِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ لِى ذَلِكَ ».

Artinya: “Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdiri dihadapan mereka, beliau bersabda: “(Ingatlah) bahwa jihad di jalan Allah dan iman kepada Allah adalah seutama-utama amal”, lalu seorang berkata: “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku, jika aku mati ketika berjihad di jalan Allah, maka apakah dosa-dosaku akan diampuni.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Iya, jika kamu mati berjihad di jalan Allah dalam keadaan kamu sabar , berharap pahala dan maju ke depan dan tidak kabur.” Kemudia setelah itu Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam bersabda lagi: “Bagaimana yang kamu katakana (tadi)?”, orang tersebut berkata: “beritahukan kepadaku, jika aku mati ketika berjihad di jalan Allah, maka apakah dosa-dosaku akan diampuni”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Iya, ketika kamu sabar, berharap pahala, maju dan tidak mundur kecuali hutang, karena sesungguhntya Jibril ‘alaihissalam telah berkata tentang hal itu (tadi).”

Saudaraku seiman…mungkin sebagian dari kita akan bertanya: “Masa sih?, kan Cuma gra –gara hutang?!

Untuk mengobati penasaran ini, mari kit abaca penjelasan para ulama Islam.

An NAwawi rahimahullah berkata: “

( نعم ان قتلت فى سبيل الله وأنت صابر محتسب مقبل غير مدبر ثم أعاده فقال إلا الدين فان جبريل قال لى ذلك ) فيه هذه الفضيلة العظيمة للمجاهد وهى تكفير خطاياه كلها إلاحقوق الآدميين وانما يكون تكفيرها بهذه الشروط المذكورة وهو أن يقتل صابرا محتسبا مقبلا غير مدبر وفيه أن الأعمال لاتنفع إلابالنية والاخلاص لله تعالى

“Iya, ketika kamu sabar, berharap pahala, maju dan tidak mundur kecuali hutang, karena sesungguhntya Jibril ‘alaihissalam telah berkata tentang hal itu (tadi)”. Di dalam hadits ini terdapat keutamaan yang agung bagi seorang mujahid, yaitu penghapusan dosa-dosa seluruhnya kecuali hak-hak yang berkaita dengan manusia, karena sesungguhnya penghapusannya dengan syarat-syarat yang telah disebutkan, yaitu dibunuh dalam keadaan sabar, berharap pahala, maju ke depan dan tidak kabur, dan di dalamnya terdapat bahwa amalan-amalan tidak akan bermanfaatkecuali dengan niat dan iklash karena Allah Ta’ala.

Beliau juga berkata:

وأما قوله صلى الله عليه و سلم إلا الدين ففيه تنبيه على جميع حقوق الآدميين وأن الجهاد والشهادة وغيرهما من أعمال البر لا يكفر حقوق الآدميين وانما يكفر حقوق الله تعالى وأما قوله صلى الله عليه و سلم نعم ثم قال بعد ذلك إلا الدين فمحمول على أنه أوحى إليه به فى الحال ولهذا قال صلى الله عليه و سلم إلاالدين فان جبريل قال لى ذلك والله أعلم

Adapun sabda beliau: “Kecuali hutang”, maka di dalam nya terdapat peringatan atas seluruh hak-hak manusia dan bahwa berjihad dan mati dalam keadaan syahid serta selain keduanya dari amalan-amalan kebajikan tidak akan menghapuskan dosa kepada manusia tetapi hanya menghapuskan dosa yang berkaitan dengan hak-hak Allah. Dan adapun sabda beliau “Iya” kemudian setelah itu beliau bersabda: “kecuali hutang”, maka hal ini dibawakan kepada bahwa beliau diberikan wahyu perihal ini ketika saat itu, oleh sebab itulah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kecuali hutang, sesungguhnya Jibril berkata kepada hal itu. Wallahu a’lam. lihat kitab Syarah Shahih Muslim, karya Nawawi, 13/29.

Berkata Al Mula Ali Al Qari:

 إلا الدين مستثنى مما تقرره نعم وهو قوله يكفر الله عني خطاياي أي نعم يكفر الله خطاياك إلا الدين والدين ليس من جنس الخطايا فكيف يستثنى منه والجواب أنه منقطع أي لكن الدين لم يكفر لأنه من حقوق الآدميين فإذا أدى أو أرضى الخصم خرج عن العهد ويحتمل أن يكون متصلا على تقدير حذف المضاف أي إلا خطيئة الدين

“Kecuali hutang” ini adalah pengecualian dari apa yang telah di tetapkan dengan sabdanya: ”Iya”, terhadap perkataan orang tersebut: “Allah akan mengampuni dosa-dosaku”, maksudnya adalah iya, Allah akan menghapuskan dosa-dosamu kecuali hutang, dan hutang bukan dari jenis dosa, lalu bagaiman koq dikecualikan?, dan jawabnnya: “bahwa pengecualiannya terputus, maksudnya adalah “kecuali hutang tidak dihapuskan karena ia termasuk hak-hak manusia, maka jika telah melunasi atau dimaafkan oleh orang yang menghutangi maka ia akan keluar dari ikatan. Dan (bisa) dibawakan pengecualian yang tersambung, dengan menyembunyikan kata sebelum hutang, jadi maksudnya adalah “Kecuali dosa-dosa hutang”. Lihat kitab Mirqat Al Mafatih, 9/375. (Asy Syamela).

As Sindi rahimahullah berkata:

( إِلَّا الدَّيْن ) أَيْ إِلَّا تَرْك وَفَاء الدَّيْن إِذْ نَفْس الدَّيْن لَيْسَ مِنْ الذُّنُوب وَالظَّاهِر أَنَّ تَرْك الْوَفَاء ذَنْب إِذَا كَانَ مَعَ الْقُدْرَة عَلَى الْوَفَاء فَلَعَلَّهُ الْمُرَاد ا ه وَذَكَرَ السُّيُوطِيُّ عَنْ بَعْض الْعُلَمَاء فِي حَاشِيَة التِّرْمِذِيّ فِيهِ تَنْبِيه عَلَى أَنَّ حُقُوق الْآدَمِيِّينَ لَا تُكَفَّرُ لِكَوْنِهَا مَبْنِيَّة عَلَى الْمُشَاحَّة وَالتَّضْيِيق وَيُمْكِنُ أَنْ يُقَالَ إِنَّ هَذَا مَحْمُول عَلَى الدَّيْن الَّذِي هُوَ خَطِيئَة وَهُوَ الَّذِي اِسْتَدَانَهُ صَاحِبه عَلَى وَجْهٍ لَا يَجُوزُ بِأَنْ أَخَذَهُ بِحِيلَةٍ أَوْ غَصَبَهُ فَثَبَتَ فِي ذِمَّته الْبَدَل أَوْ دَانَ غَيْر عَازِم عَلَى الْوَفَاء لِأَنَّهُ اِسْتَثْنَى ذَلِكَ مِنْ الْخَطَايَا وَإِلَّا فَالِاسْتِثْنَاء أَنْ يَكُونَ مِنْ الْجِنْس فَيَكُونُ الدَّيْن الْمَأْذُون فِيهِ مَسْكُوتًا عَنْهُ فِي هَذَا الِاسْتِثْنَاء فَلَا يَلْزَمُ الْمُؤَاخَذَة بِهِ لِجَوَازِ أَنْ يُعَوِّضَ اللَّه صَاحِبه مِنْ فَضْله وَاَللَّه أَعْلَم.

“Kecuali hutang” yaitu kecuali ia meninggalkan pelunasan hutang, karena hutang sendiri bukan dari dosa. Dan yang terlihat jelas bahwa meninggalkan pelunasan adalah sebuah dosa jika ada kemampuan untuk melunasi, mungkin itulah maksud dengannya. Disebutkan oleh Suyuthi tentang pendapat sebagian ulama di dalam catatan kaki Sunan Tirmidzi; di dalam (hadits ini) ada peringatan atas hak-hak manusia tidak dihapus dosa-dosanya, karena hak-hak tersebut dibangun di atas saling meminta dan menyempitkan, dan mungkin bisa dikatakan sesungguhnya hal ini dibawakan atas hutang yang merupakan dosa, yaitu seorang yang berhutang dengan cara yang tidak diperbolehkan, yaitu mengambilnya dengan tipuan atau paksaan, maka tetap pada tanggungannya ganti atau (bisa dibawakan pada) berhutang tidak bertekad untuk melunasinya, karena ia mengecualikan hal itu dari kesalahan-kesalahan, padahal pengecualian terjadi dari sejenis, maka hutang yang diperbolehkan di dalamnya tidak disebutkan di dalam pengecualian ini. Jadi tidak ada kelaziman dianggap sebagai dosa karenanya, karena kemungkinan Allah akan melunasi (hutang)nya karena kemurahan-Nya atas seorang yang berhutang. Wallahu a’lam. Lihat kitab Hasyiah As Sindi ‘Ala Ibni Majah, 5/406. (Asy Syamela).

ditulis oleh Ahmad Zainuddin

Selasa, 16 Rabiuts tsani 1434H, Dammam KSA.

Post Comment