Terhina Karena Hutang (bag. 08)
Artikel Fiqh

Terhina Karena Hutang (bag. 08)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Saudaraku seiman…

Pada bagian ini masih membicarakan adab orang berhutang. Dan salah satu adab seorang berhutang adalah:

3. Menjamin Hutang

Di dalam Islam disyariatkan penjaminan terhadap hutang dan jaminan terhadap hutang ada empat macam; jaminan dengan rahn (barang yang digadaikan), jaminan dengan kafalah (penanggungan terhadap hutang), jaminan dengan kitabah (penulisan) dan jaminan dengan syahadah (persaksian).

 

Dalam kesempatan kali ini, kita mencoba membaca hadits-hadits yang berkaitan dengan empat jaminan terhadap hutang ini.

  1. Jaminan dengan Rahn (menggadaikan harta)

Rahn (الرهن) secara bahasa berarti tetap dan terus menerus, seperti firman Allah Ta’ala:

{كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ} [المدثر: 38]

Artinya: “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” QS. Al Muddatstsir: 38.

Sedangkan Rahn secara syar’ie bermakna:

جعل مال وثيقة على دين

Menjadikan harta sebagai jaminan terhadap harta.” Lihat kitab Fath Al Bari, 5/140 dan tafsir Al Qurthubi,3/409.

{وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ} [البقرة: 283]

  Artinya: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” QS. Al Baqarah: 283.

Dalil-dalil yang menunjukkan tentang Rahn:

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِىٍّ إِلَى أَجَلٍ ، وَرَهَنَهُ دِرْعًا مِنْ حَدِيدٍ .

Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam membeli makanan dari seorang Yahudi kepada batas waktu yang ditentukan, dan beliau menggadaikan baju perang dari besi.” HR. Bukhari. 

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ عَلِىَّ بْنَ أَبِى طَالِبٍ دَخَلَ عَلَى فَاطِمَةَ وَحَسَنٌ وَحُسَيْنٌ يَبْكِيَانِ فَقَالَ مَا يُبْكِيهِمَا قَالَتِ الْجُوعُ فَخَرَجَ عَلِىٌّ فَوَجَدَ دِينَارًا بِالسُّوقِ فَجَاءَ إِلَى فَاطِمَةَ فَأَخْبَرَهَا فَقَالَتِ اذْهَبْ إِلَى فُلاَنٍ الْيَهُودِىِّ فَخُذْ دَقِيقًا فَجَاءَ الْيَهُودِىَّ فَاشْتَرَى بِهِ دَقِيقًا فَقَالَ الْيَهُودِىُّ أَنْتَ خَتَنُ هَذَا الَّذِى يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَخُذْ دِينَارَكَ وَلَكَ الدَّقِيقُ. فَخَرَجَ عَلِىٌّ حَتَّى جَاءَ فَاطِمَةَ فَأَخْبَرَهَا فَقَالَتِ اذْهَبْ إِلَى فُلاَنٍ الْجَزَّارِ فَخُذْ لَنَا بِدِرْهَمٍ لَحْمًا فَذَهَبَ فَرَهَنَ الدِّينَارَ بِدِرْهَمِ لَحْمٍ فَجَاءَ بِهِ فَعَجَنَتْ وَنَصَبَتْ وَخَبَزَتْ وَأَرْسَلَتْ إِلَى أَبِيهَا فَجَاءَهُمْ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَذْكُرُ لَكَ فَإِنْ رَأَيْتَهُ لَنَا حَلاَلاً أَكَلْنَاهُ وَأَكَلْتَ مَعَنَا مِنْ شَأْنِهِ كَذَا وَكَذَا. فَقَالَ « كُلُوا بِاسْمِ اللَّهِ ». فَأَكَلُوا فَبَيْنَمَا هُمْ مَكَانَهُمْ إِذَا غُلاَمٌ يَنْشُدُ اللَّهَ وَالإِسْلاَمَ الدِّينَارَ فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَدُعِىَ لَهُ فَسَأَلَهُ. فَقَالَ سَقَطَ مِنِّى فِى السُّوقِ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « يَا عَلِىُّ اذْهَبْ إِلَى الْجَزَّارِ فَقُلْ لَهُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ لَكَ أَرْسِلْ إِلَىَّ بِالدِّينَارِ وَدِرْهَمُكَ عَلَىَّ ». فَأَرْسَلَ بِهِ فَدَفَعَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِلَيْهِ.

 Artinya: “Sahl bin Sa’ad meriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib masuk menemui Fathimah dan ketika itu Hasan dan Husein keduanya sedang menangis, ia bertanya: “Apa yang mneyebabkan kalian menangis?”, Fathimah menjawab: “Lapar”, maka keluarlah Ali, lalu ia mendapatkan satu dinar di pasar, lalu beliau mendatangi Fathimah memberitahukannya hal itu, Fathimah berkata: “Temuilah si fulan orang Yahudi, belilah tepung, lalu beliau mendatangi orang Yahudi dan membeli darinya tepung , seorang Yahudi itu berkata: “Kamu adalah menantu seorang yang mengaku bahwa ia adalah Rasulullah?”, beliau menjawab: “Iya”, si Yahudi berkata: “Ambillah dinarmu dan kamu akan mendapatkan tepungmu”, kemudian Ali pergi dan menemui Fathimah lalu beliau memberitahukan hal tersebut kepada Fathimah, Fathimah berkata: “Pergilah temui si fulan yang tukang daging, ambilkan untuk kami daging seharga satu dirham, lalu beliau pergi dan beliau menggadaikan satu dinar untuk mendapatkan satu dirham daging, lalu beliau membawanya kepada Fathimah, lalu Fathimah mengadonnya, dan menjadikannya roati, lalu beliau mengutus seseorang kepada bapaknya (Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam), lalu beliau mendatangi mereka, kemudian Fathimah  bertanya: “Wahai Rasulullah, aku akan menyebutkan padamu, jika kamu melihatnya halal untuk kami maka kami akan memakannya dan kamu akan makan bersama kami, ceritanya begini dan begini”, beliau bersabda: “Makanlah dengan nama Allah”, ketika mereka dalam keadaan demikian, datang seorang anak kecil bersumpah dengan menyebut nama Allah dan mengucapkan syahadat (ia meminta) satu dinar, Lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk dipanggil anak tersebut, lalu beliau bertanya kepadanya (tentang satu dinar), ia menjawab: “Jatuh dariku ketika di pasar”, Lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Ali pergilah kepada tukang jagal, katakan kepadanya: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadamu: “Kirimkan kepadakusatu dinar, dan satu dirhammu aku yang menanggungnya”, lalu sang tukang jagal mengembalikan satu dinar dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kepadanya satu dirham.” HR. Abu Daud.

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa diperbolehkannya menjamin hutang  dengan barang jaminan, dan penjaminan tersebut boleh baik ketika dalam keadaan mukim atau di dalam safar, dan pembatasan yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:

{وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ } [البقرة: 283]

Artinya: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” QS. Al Baqarah: 283. Pembatasan ini tidak dan pemahaman untuknya.

AL Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

التقييد بالسفر في الآية خرج للغالب فلا مفهوم له لدلالة الحديث على مشروعيته في الحضر كما سأذكره وهو قول الجمهور واحتجوا له من حيث المعنى بأن الرهن شرع توثقة على الدين لقوله تعالى فان أمن بعضكم بعضا فإنه يشير إلى أن المراد بالرهن الاستيثاق وإنما قيده بالسفر لأنه مظنة فقد الكاتب فأخرجه مخرج الغالب

Pembatasan dengan safar di dalam ayat leuar dari kebiasaan yang banyak, maka tidak ada pemahaman untuknya, karena penunjukkan oleh hadits atas pensyariatannya ketika mukim, dan ini adalah pendapat mayoritas para ulama, mereka berlandaskan unttuk dari sisi makna, bahwa gadai syariat penjaminan terhadap hutang, berdasarkan FIrman Allah Ta’ala,

{فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا} [البقرة: 283]

Artinya: “Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain”, karena sesungguhnya ia menunjukkan kepada bahwa maksud gadai adalah penjaminan, dan pembatasannya dengan safar adalah hanya karena ia sangkkan kehilangan tukang tulis, maka ia dikeluarkan dalam keadaan yang mayoritas.” Lihat kitab Fath Al Bari, (5/140 Asy Syamela).

Ibnu Qudamah berkata:

وَيَجُوزُ الرَّهْنُ فِي الْحَضَرِ ، كَمَا يَجُوزُ فِي السَّفَرِ . قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ : لَا نَعْلَمُ أَحَدًا خَالَفَ فِي ذَلِكَ ، إلَّا مُجَاهِدًا ،

Artinya: “Diperbolehkan Rahn ketika mukim sebagaiman diperbolehkan ketika safar, Ibnul Mundzir rahimahullah berkata: “Kami tidak mengetahui ada seorang yang menyelisihi dalam hal itu kecuali Mujahid”. Lihat Kitab AL Mughni, (9/118 Asy Syamela).

Dan permasalahan Rahn sering sekali dibahas di dalam buku dan kitab-kitab fikih, para pembaca silahkan merujuk kepadanya. Disini hanya akan disebutkan beberapa hal ringkas tentang Rahn:

1. Rukun Rahn (penggadaian)

Harus terkumpul di dalam setiap penggadaian rukun-rukun di bawah ini:

–  Dua orang yang mengadakan transaksi

–  Barang yang digadaikan

–  Adanya hutang

–  Ucapan yang keluar dari dua orang yang melakukan transaksi yang menunjukkan bahwa keduanya rela dengan akad rahn

2. Syarat Rahn (penggadaian)

Syarat-syarat di dalam transkasi penggadaian bermacam-macam;

1. Ada syarat yang berkaitan dengan dua orang yang melakukan transaksi penggadaian, dan syaratnya hanya satu yaitu ia adalah seorang yang pantas melakukan penggadaian karena ia seorang yang mukallaf dan bijaksana di dalam perbuatannya.

2. Ada syarat yang berkaitan dengan barang yang digadaikan, dan ia ada dua syarat;

Syarat pertama: memegang barang (pemberian barang)

Syarat kedua: barang yang digadaikan adalah barang yang dapat dijual

3. Ada syarat yang berkaitan dengan penggadaian itu sendiri;

Syarat pertama: adanya penggadaian karena sebagai jaminan atas hutang.

Syarat kedua: adanya penggadaian bersamaan dengan hak atau setelah hak bukan sebelumnya. (lihat kitab Ahkam Ad Dain Dirasah Haditsiyyah Fiqhiyyah, hal. 363-364).

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin

Jumat, 26 Rabiuts Tsani 1434H, Dammam KSA.

Post Comment