Terhina Karena Hutang (bag. 11)
Artikel Fiqh

Terhina Karena Hutang (bag. 11)

بسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Saudaraku seiman…

Pada pembahasan kali ini masih membicarakan tentang salah satu adab berhutang, yaitu menjamin hutang dan cara yang ketiga menjamin hutang adalah dengan:

4. Persaksian

Persaksian adalah sandaran yang kuat di dalam penjaminan hutang dan perjual belian, dan ketika persaksian adalah sandaran yang kuat dan jelas, yang dibangun diatasnya hukum-hukum yang tetap, maka Allah memerintahkan siapa yang berhutang pada batas tertentu untuk mengambil dua saksi jika dari lelaki atau satu lelaki dan dua orang perempuan:

  {وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ} [البقرة: 282]

Artinya: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai.” QS. Al Baqarah: 282.

Sedangkan sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan tentang persaksian dalam menjamin perhutangan adalah:

عَنْ أَبِى مُوسَى رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« ثَلاَثَةٌ يَدْعُونَ اللَّهَ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَهُمْ رَجُلٌ كَانَتْ تَحْتَهُ امْرَأَةٌ سَيِّئَةُ الْخُلُقِ فَلَمْ يُطَلِّقْهَا وَرَجُلٌ كَانَ لَهُ عَلَى رَجُلٍ مَالٍ فَلَمْ يُشْهِدْ عَلَيْهِ وَرَجُلٌ آتَى سَفِيهًا مَالَهُ وَقَدْ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (وَلاَ تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمْ) ».

Artinya: “Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiga orang yang berdoa kepada Allah dan tidak dikabulkan doa mereka; seorang yang mempunyai istri yang buruk akhlaknya dan ia tidak mentalaknya dan seorang yang mempunyai harta atas seseorang dan ia tidak menyaksikan atasnya dan seorang yang memberikan kepada seorang yang sangat bodoh hartanya, padahal Allah Ta’ala telah berfirman: “Dan janganlah kalian memberikan kepada orang-orang yang sangat bodoh harta-harta kalian.” HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1805

Terjadi perbedaan diantara ulama apakah perintah mendatangkan saksi hukumnya wajib atau sunnah? Telah dijelaskan pada jaminan dengan tulisan tentang perbedaan para ulama dalam perkara penulisan hutang dan telah dijelaskan pula disana dalil-dalil dari masing-masing pendapat. Dan hukum persaksian terhadap hutang seperti hukum penulisan terhadap hutang. Dan pendapat serta dalil yang digunakan di dalamnya persaksian seperti pendapat dan dalil di dalam penulisan hutang. Hal ini karena perintah keduanya terdapat di dalam satu ayat yaitu ayat hutang.

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin

Sabtu, 24 Jumadats Tsaniyah 1434H, Dammam KSA.

Post Comment