Fatwa Ulama: Hukum Shalat di dalam masjid yang di arah kiblatnya Kuburan?
Artikel Fiqh

Fatwa Ulama: Hukum Shalat di dalam masjid yang di arah kiblatnya Kuburan?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Saudaraku seiman…

Fatwa kali ini membahas tentang shalat di dalam masjid yang terdapat pada arah kiblatnya kuburan, sebagaimana yang terjadi di beberapa daerah kaum muslim, terutama kuburan tersebut adalah biasanya kuburan yang membangun masjid atau ulama setempat dan semisalnya.

Dan Ulama yang menjawab fatwa ini adalah Syeikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin rahimahullah:

 

السؤال : يوجد في قريتنا مسجد وأمامه قبر ، وبينهما جدار ، ولكن يوجد منافذ في هذا الجدار تطل على القبر ، والقبر يوجد في قبلة المسجد ، فهل تجوز الصلاة في هذا المسجد ؟ حيث أن هناك من يقول بأنها تجوز ، والبعض الآخر يقول لا تجوز ، نرجو القول الفصل في هذا الموضوع الهام ؟ .

Pertanyaan: “Terdapat di desa kami sebuah masjid dan didepannya sebuah kuburan anatar keduanya ada dinding, akan tetapi terdapat bolong-bolong pada dinding ini yang menyampaikan kepada kuburan, dan kuburan berada di arah kiblat masjid, apakah boleh shalat di dalam masjid ini? Dimana ada yang mengatakan bahwasanya boleh dan sebagian yang lain berpendapat tidak boleh, kami harapkan pendapat yang pasti di dalam permasalahan ini?”

الجواب :

لا يجوز أن يصلى في هذا المسجد المجاور للقبر ، سيما إذا كان القبر في قبلة المصلين ، وبينهم وبينه جدار فيه نوافذ تطل على القبر ، ولو لم يخطر ببالهم تعظيم القبر ، فقد ورد النهي عن الصلاة في المقبرة ، ورأى عمر رجلاً يصلي عند قبر فنهاه ، وقال القبر القبر رواه البيهقي (2/435) وعلقه البخاري في صحيحه (1/523 فتح ) ووصله عبد الرزاق ( 1/404 رقم 1581 ) . 

فعلى هذا يلزم نقل المسجد إلى موضع آخر ، أو التسوير على القبر بسور خاص حاجز بينه وبين جدار المسجد ، والله أعلم .

Jawaban: “Tidak diperbolehkan untuk shalat di dalam masjid yang bergandengan dengan kuburan ini, terutama jika kuburan berada di arah kiblat masjid dan antara mereka dengannya terdapat dinding yang bolong-bolong memperlihatkan ke kuburan, meskipun tidak terbetik di dalam pikiran mereka untuk mengaagungkan kuburan, karena telah terdapat larangan tentang shalat di dalam kuburan, dan Umar radhiyallahu ‘anhu pernah melihat seseorang shalat di sisi kuburan, maka beliau melarang orang tersebut, dan beliau berkata: “Kuburan, kuburan”. HR. Al Baihaqi, 2/435 dan disebutkan oleh Al Bukhari secara ta’liq (tanpa sanad) di dalam kitab Shahihnya (1/523) dan disambung sanadnya oleh Abdurrazzaq di dalam Mushannafnya (1/404, no. 1581).

Oleh sebab inilah wajib memindahkan masjid kepada tempat yang lain, atau memagari kuburan dengan pagar khusus yang memisahkan antaranya dengan dinding masjid.” Lihat kitab Al Lu’lu’ Al Makin Mintawa Ibn Jibrin, hal: 24.

Sumber: http://islamqa.info/ar/ref/7875

Diterjemahkan oleh Ahmad Zainuddin

Jumat, 9 Jumadats Tsaniyah 1434H, Dammam KSA.

Post Comment