Bagaimana Taubatnya Seorang Muslim Baligh yang Meninggalkan Puasa dengan Sengaja Tanpa Alasan Selama Bertahun-tahun?!?
Fiqh

Bagaimana Taubatnya Seorang Muslim Baligh yang Meninggalkan Puasa dengan Sengaja Tanpa Alasan Selama Bertahun-tahun?!?

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Kawanku Pembaca Seiman yang Semoga selalu dirahmati Allah Ta’ala…
Jangan pernah ada dalam pikiran Anda untuk meninggalkan puasa dengan sengaja tanpa ada alasan yang dibenarkan oleh syari’at, karena perbuatan ini lebih buruk dibandingkan zina dan kecanduan barang yang memabukkan, bahkan bias-bisa Anda diragukan keislamannya dan dikira sebagai orang munafik!
Adz Dzhahaby rahimahullah berkata:

” وعند المؤمنين مقرر أن من ترك صوم رمضان بلا مرض ولا غرض ( أي بلا عذر يبيح ذلك ) أنه شر من الزاني ومدمن الخمر ، بل يشكون في إسلامه ويظنون به الزندقة والانحلال ” انتهى .

“Artinya: “Bagi kaum mukmin telah dinyatakan bahwa siapa yang meninggalkan puasa pada bulan Ramadhan bukan karena sakit atau alasan (yaitu tanpa alasan yang dibolehkan terhadapnya), maka ia adalah lebih buruk daripada perbuatan zina atau kecanduan hal yang memabukkan, bahkan mereka meragukan keislamannya dan mengira ia dengannya adalah seorang zindik (kemunafikan) dan inhilal (pengharaman apa yang dihalalkan-pent). Lihat kitab Al Kabair.

Lalu kalau ada yang tidak berpuasa;
Sedangkan ia muslim, semenjak ia baligh, padahal ia mampu, ia tidak memiliki alasan yang dibenarkan syariatkan untuk meninggalkan puasa, ia melakukannya dengan sengaja dengan mengakui kewajiban hukum puasa,
Dan SEKARANG IA INGIN BERTAUBAT DAN MULAI TAHUN INI BERPUASA, MAKA BAGAIMANAKAH TAUBATNYA; APAKAH BESERTA TAUBAT, IA JUGA HARUS MENGQADHA HARI-HARI YANG IA TIDAK PUASA SELAMA INI, BAGAIMANA JAWABANNYA?

Mari kita perhatikan Fatwa berikut:

Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata ketika ditanya dengan pertanyaan yang sama:

“الصحيح أن القضاء لا يلزمه إن تاب؛ لأن كل عبادة مؤقتة بوقت إذا تعمد الإنسان تأخيرها عن وقتها بدون عذر، فإن الله لا يقبلها منه، وعلى هذا فلا فائدة من قضائه، ولكن عليه أن يتوب إلى الله عز وجل ويكثر من العمل الصالح، ومن تاب تاب الله عليه.”

Artinya: “Pendapat yang benar, bahwa Qadha tidak wajib baginya jika ia bertaubat, karena setiap Ibadah yang mempunyai ditetapkan dengan sebuah waktu jika seorang manusia dengan sengaja mengakhirkannya dari waktunya (yang sudah ditetapkan) tanpa ada alasan, maka sesungguhnya Allah tidak menerima darinya, berdasarkan hal ini, maka tidak ada faidah dari qadhanya, akan tetapi wajib baginya bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla dan memperbanyak dari amal shalih, dan barangsiapa yang bertaubat maka niscaya Allah menerima taubatnya.” Lihat Majmu Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, 19/no. 14.

” الفطر في نهار رمضان بدون عذر من أكبر الكبائر، ويكون به الإنسان فاسقاً، ويجب عليه أن يتوب إلى الله، وأن يقضي ذلك اليوم الذي أفطره، يعني لو أنه صام وفي أثناء اليوم أفطر بدون عذر فعليه الإثم، وأن يقضي ذلك اليوم الذي أفطره؛ لأنه لما شرع فيه التزم به ودخل فيه على أنه فرض فيلزمه قضاؤه كالنذر، أما لو ترك الصوم من الأصل متعمداً بلا عذر فالراجح أنه لا يلزمه القضاء، لأنه لا يستفيد به شيئاً، إذ أنه لن يقبل منه، فإن القاعدة أن كل عبادة مؤقتة بوقت معين فإنها إذا أخرت عن ذلك الوقت المعين بلا عذر لم تقبل من صاحبها، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: «من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد». ولأنه من تعدي حدود الله عز وجل، وتعدي حدود الله تعالى ظلم، والظالم لا يقبل منه، قال الله تعالى: {وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُوْلَائِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ }. ولأنه لو قدم هذه العبادة على وقتها أي فعلها قبل دخول الوقت لم تقبل منه، فكذلك إذا فعلها بعده لم تقبل منه إلا أن يكون معذوراً.”

Artinya: “Berbuka di siang hari bulan Ramadhan dengan sengaja tanpa alasan termasuk salah satu dosa besar, dengannya seorang manusia menjadi orang yang Fasik, wajib baginya bertaubat kepada Allah, dan mengqadha hari yang ia berbuka itu, maksudnya adalah jika ia berpuasa di siang hari bulan Ramadhan lalu ia berbuka tanpa ada udzur syar’ie maka dia berdosa dan harus mengqadha hari yang ia berbuka tersebut, karena ia ketika memulainya maka ia memegangnya dan masuk ke dalamnya dalam keadaan itu adalah kewajiban, maka wajib baginya qadha (atas berbukanya dengan sengaja) layaknya seperti nadzar.
Adapun jika ia meninggalkan puasa dari awalnya dengan sengaja, tanpa ada alasan apapun, maka pendapat yang lebih kuat adalah ia tidak wajib mengqadha’, karena ia tidak akan mendapatkan manfaat apa-apa, karena hal itu tidak diterima darinya, hal ini berdasarka kaedah: “Bahwa setiap ibadah yang telah ditentukan waktunya dengan waktu tertentu, mka jika diakhirkan dari waktu yang sudah tentukan tersebut, tanpa alasan, tidak akan diterima dari pelakunya, hal ini berdasarkan Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

« مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ».

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan sebuah amalan tidak ada contohnya dari kami maka amalannya tertolak.”
Dan karena ia telah melampaui batasan-batasan Allah Azza wa Jalla dan pelampauan terhadap batsan Allah adalah sebuah bentuk kezhaliman, dan seorang yang berlaku zhalim tidak diterima darinya, Allah berfirman:

{وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُوْلَائِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ }

Artinya: “Dan Barangsiapa yang melampaui batasan-batasan Allah, maka mereka adalah orang-orang yang zhalim.” QS. Al Baqarah: 229.
Dan juga karena jika ia mengerjakan ibadah ini sebelum waktunya maka tidak akan diterima darinya, maka demikian pula jika ia kerjakan di luar waktunya maka tidak akan diterima darinya kecuali jika ia mempunyai alasan.” Lihat Kitab Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Ustaimin, 19/no. 45.
Kawanku Pembaca Seiman yang Semoga selalu dirahmati Allah Ta’ala…
Perlu diketahui bahwa permasalahan ini terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama, ada yang diantara mereka yang mewajibkan qadha.
Dan penulis lebih memilih pendapat diatas, karena kuat dalil dan alasan yang beliau kemukakan. Wallahu a’lam.
Semoga bermanfaat.

Ahmad Zainuddin

Selasa, 20 Sya’ban 1433H, Dammma KSA

Post Comment