Jembatan, Cahaya dan Neraka – Mengingat Neraka, Bag. 02
Aqidah Artikel

Jembatan, Cahaya dan Neraka – Mengingat Neraka, Bag. 02

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Saudaraku…mari perhatikan ayat-ayat dan hadits-hadits berikut

– Seorang muslim meyakini bahwa di hari kiamat, ia akan berjalan di atas shirath

عَنِ أَبَي هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ:… فَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَانَىْ جَهَنَّمَ ، فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يَجُوزُ مِنَ الرُّسُلِ بِأُمَّتِهِ ، وَلاَ يَتَكَلَّمُ يَوْمَئِذٍ أَحَدٌ إِلاَّ الرُّسُلُ ، وَكَلاَمُ الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “…lalu diletakkan Ash Shirath di atas Neraka Jahannam dan akulah orang yang pertama kali dari para rasul yang melewatinya bersama umatnya, pada hari itu tidak ada seorangpun yang berbicara kecuali para rasul, dan perkataan para rasul pada hari itu adalah: “Wahai Allah, selamatkanlah, selamatkanlah….” HR. Bukhari.

عن أَبَي بَكْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ –صلى الله عليه وسلم- قَالَ « يُحْمَلُ النَّاسُ عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَتَقَادَعُ بِهِمْ جَنَبَةُ الصِّرَاطِ تَقَادُعَ الْفَرَاشِ فِى النَّارِ – قَالَ – فَيُنَجِّى اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ –».

Artinya: “Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Manusia akan diletakkan di atas shirath pada hari kiamat, maka bagian samping shirath menjatuhkan mereka satu persatu ke dalam neraka, lalu Allah Tabaraka Wa Ta’ala dengan rahmat-Nya menyelamatkan orang yang Dia kehendaki…” HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Kitab Zhilal Al Jannah, hal. 837.

– Shirath itu lebih tajam dari mata silet dan pedang, lebih tipis dari rambut, jalan yang licin, terdapat duri-duri terbuat dari besi, disamping kanan dan kiri terdapat besi-besi bengkok yang mengait.

عن سلمان : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : و يوضع الصراط مثل حد الموس فتقول الملائكة : من تجيز على هذا ؟ فيقول : من شئت من خلقي فيقول : سبحانك ما عبدناك حق عبادتك

Artinya: “Salman radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “…Dan diletakkan shirath  laksana setajam silet, maka para malaikat berkata: “Siapa yang (mampu) melewati ini?”, Allah menjawab: “Siapa yang Aku kehendaki dari makhluk-makhluk-Ku”, maka para malaikat berkata: “Maha Suci Engkau, kami  belum beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya.” HR. Al Hakim dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 941.

قَالَ أَبُو سَعِيدٍ بَلَغَنِي أَنَّ الْجِسْرَ أَدَقُّ مِنْ الشَّعْرَةِ وَأَحَدُّ مِنْ السَّيْفِ

Berkata Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu: “Telah sampai kepadaku bahwa jembatan lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang.” HR. Muslim.   

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ:… قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْجِسْرُ قَالَ « دَحْضٌ مَزِلَّةٌ. فِيهِ خَطَاطِيفُ وَكَلاَلِيبُ وَحَسَكٌ تَكُونُ بِنَجْدٍ فِيهَا شُوَيْكَةٌ يُقَالُ لَهَا السَّعْدَانُ فَيَمُرُّ الْمُؤْمِنُونَ كَطَرْفِ الْعَيْنِ وَكَالْبَرْقِ وَكَالرِّيحِ وَكَالطَّيْرِ وَكَأَجَاوِيدِ الْخَيْلِ وَالرِّكَابِ فَنَاجٍ مُسَلَّمٌ وَمَخْدُوشٌ مُرْسَلٌ وَمَكْدُوسٌ فِى نَارِ جَهَنَّمَ.

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya: “Bagaimanakah jembatan itu?”, beliau menjawab: “Jalan yang licin dan menggelincirkan, pada besi-besi bengok pengait dan duri-duri yang keras, (seperti) terdapat di daerah Najed, disebut dengan As Sa’dan, lalau kaum beriman berjalan melewati seperti kedipan mata, (sambaran) kilat, angin (yang mengalir), burung (yang terbang), (larinya) kuda yang kuat, dan orang yang mnegendarai onta, maka ada yang selamat da nada yang tercabik-cabik terlempar serta ada yang terdorong masuk ke dalam api neraka Jahannam.” HR. Bukhari dan Muslim.

– Pada saat jalan di atas shirath sangat butuh cahaya karena keadaan sangat gelap.

أَنَّ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : …. فَقَالَ الْيَهُودِىُّ أَيْنَ يَكُونُ النَّاسُ يَوْمَ تُبَدَّلُ الأَرْضُ غَيْرَ الأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هُمْ فِى الظُّلْمَةِ دُونَ الْجِسْرِ ».

Artinya: “Bahwa Tsauban Maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meriwayatkan: “…Seorang Yahudi berkata: “Dimanakah manusia ketika bumi diganti dengan bumi (yang lain), serta langit diganti (dengan lagit yang lain)?”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Mereka dalam kegelapan sebelum jembatan.” HR. Muslim.

– Setiap orang akan mendapatkan cahaya sesuai dengan amalannya, sampai-sampai ada yang hanya mendapatkan cahaya sejempol kaki, SESUAI DENGAN AMALAN BUKAN SESUAI DENGAN RUPA, HARTA, JABATAN, KETURUNAN!

روى البيهقي بسنده عن مسروق ، عن عبد الله بن مسعود ، قال : ” يجمع الله الناس يوم القيامة ” إلى أن قال : ” فمنهم من يعطى نوره مثل الجبل بين يديه ، ومنهم من يعطى نوره فوق ذلك ، ومنهم من يعطى نوره مثل النخلة بيمينه ، ومنهم من يعطى دون ذلك بيمينه ، حتى يكون آخر من يعطى نوره في إبهام قدمه ، يضيء مرة ويطفأ أخرى ، إذا أضاء قدم قدمه ، وإذا أطفأ قام ، قال : فيمر ويمرون على الصراط ، والصراط كحد السيف دحض مزلة ، ويقال لهم : امضوا على قدر نوركم ، فمنهم من يمر كانقضاض الكوكب ، ومنهم من يمر كالريح ، ومنهم من يمر كالطرف ، ومنهم من يمر كشد الرجل ، يرمل رملاً على قدر أعمالهم ، حتى يمر الذي نوره على إبهام قدمه ، تخر يد ، وتعلق يد ، وتخر رجل وتعلق رجل ، وتصيب جوانبه النار ، فيخلصون فإذا خلصوا ، قالوا : الحمد لله الذي نجانا منك ، بعد أن أراناك ، لقد أعطانا ما لم يعط أحد “

Artinya: “Al Baihaqy meriwayatkan dengan sanadnya kepada Masruq, ia mendapatkan riwayat dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Allah akan mengumpulkan manusia pada hari kiamat”, smapai beliau berkata: “Maka diantara mereka ada yang diberi cahayanya seperti gunung di depannya, dari mereka ada yang diberi cahayanya lebih besar dari itu, dari mereka ada yang diberi cahaya seperti pohon kurma di samping kanannya, dari mereka ada yang diberi cahayanya lebih kecil dari itu di samping kanannya, sampai yang terakhir diberi cahanyanya sebesar jempol kakinya, terkadang hidup (menerangi) terkadang padam,  jika ia hidup maka ia melangkahkan satu kaki dan jika padam ia terdiam, lalau mereka berjalan di atas shirath, dan shirath itu setajam pedang, licin menggelincirkan, dan dikatakan kepada mereka: “Jalanlah sesuai dengan cahaya yang kalian miliki”, maka dari mereka ada yang berjalan melewati seperti kilatan bintang, dari mereka ada yang berjalan melewati seperti angin, dari mereka aa yang berjakan melewati keipan mata, dari mereka ada yang melewati seorang yang berlari, ia berlari-lari sesuai dengan amalannya, sampai berjalan seorang yang cahayanya hanya sebesar jempol kaki, terkadang tangannya terjatuh, terkadang tergantung, terkadang kakinya terpleset, terkadang tergantung, bagian samping badannya terkena api neraka, maka akhirnya mereka melaluinya, jika telah mereka lalui (shirath tersebut), mereka berkata: “Segala puji hanya milik Allah yang telah menyelamatkan kami darimu, setelah IA memperlihatkannya kepada kami, sungguh Ia telah memberikan (anugerah) yang belum pernah Ia berikan kepada seorangpun.” lihat Kitab Takhrij Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyyah, karya Al Albani, 469 (asy Syamela).

Saudaraku…

Kalau begitu, betapa sungguh, kita sangat butuh cahaya, maka kumpulkan cahaya tersebut ketika kita masih di dunia, karena di akhirat, di atas shirath hanya ada kegelapan, kecuali yang banyak amalnya.

Bersambung… Amalan Pendatang Cahaya Di Hari Kiamat – Mengingat Neraka, bag. 03

 Ditulis oleh Ahmad Zainuddin

Rabu 25 Syawwal 1433H, Dammam KSA.

Post Comment